<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5620817435471515453</id><updated>2011-04-22T10:40:23.409+07:00</updated><category term='Inspirasi KEReBRITIS'/><category term='Resensi'/><category term='About Kerebritis'/><category term='Epilog'/><title type='text'>kerebritis</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kerebritis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerebritis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Admin Staff</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5620817435471515453.post-4385819649106420331</id><published>2009-03-04T13:10:00.002+07:00</published><updated>2009-03-04T15:10:38.790+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>KEReBITIS: Hidup Kere, Mati Juga Kere</title><content type='html'>&lt;body.content&gt;&lt;p&gt;Judul Buku: KEReBRITIS&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penulis: Juslifar M Junus&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tebal Buku: 187 Halaman&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penerbit: BakBuk Publisher, Agustus 2008&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kerebritis, What a hell is that?! Ini adalah judul pertama sekaligus deskripsi singkat sejumlah makhluk dari 12 cerita tentang manusia. Ya, dengan tagline "Semua orang awalnya kere...", Juslifar M Junus menceritakan kehidupan sosial masyarakat kita yang dilematis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti selebritis yang punya nama besar, kaum kere (baca: miskin) juga figur terkenal di negeri ini. Bedanya, hanya dalam segi kepemilikan. Selebritis bisa dibilang hidup berkecukupan. Njomplang, kerebritis hanya akrab dengan kekurangan dan penderitaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saking akrabnya, manusia kere itu seperti kebal dengan penderitaan. Bagi mereka, kemiskinan bukan lagi bencana, tetapi sebuah kebiasaan. Si kere terbiasa dengan baju tambalan, celana bolong, dan rambut merah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mereka bukan korban mode, cuma tidak punya cukup uang buat beli baju atau creambath dengan rutin. " ... , mending buat beli beras." (Junus, 2008:15)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Agaknya, inilah keyakinan penulis pada kehidupan Karto, 36 tahun; manusia kere yang dilengkapi dengan segala atribut kekereannya alias miskin semiskin-miskinnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karto, perwakilan bagi kaum pinggiran yang marginal dan tidak butuh rasa kasihan, tidak pula mau dikasihani. Karto tidak menuntut banyak. Dia hanya ingin keberadaannya dimanusiakan, sama seperti manusia lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun Juslifar menolak mengharu-birukan kisah dalam bentuk kesedihan. Dia menulisnya dengan aroma tertawa. Kere memang bukan lelucon, melainkan fakta di sekitar kita. Juslifar seakan mengingatkan, makhluk kere tetap punya cerita yang bisa membuat penderitaan menjadi kekuatan hidup mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karto sudah merasakan kerasnya perjalanan hidup sejak ibunya ditinggal pergi tukang becak berstatus suami, yang seharusnya menjadi bapaknya. Dengan alasan ini pula, Karto tidak mau mengkhianati kesetiaan ibunya. Dia pun memutuskan tidak menikah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meski kere dan tidak pernah punya cukup uang, Karto cukup tahu diri dan masih punya harga diri. Sedikit kenal Tuhan, Karto memilih ngutang daripada mencuri untuk makan. Baginya, ngutang adalah satu-satunya cara untuk mengganjal perut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"... Mereka yang sudah akrab dengan nasib buruk seakan tak bisa lagi tersinggung atau sedih. Kalau ternyata kemelaratan menyeret mereka kepada sang lapar, ya apa boleh buat. Mereka selalu menyiapkan mental cadangan buat ketawa agar jiwa mati rasa terhadap penderitaan." (Junus, 2008: 61)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Persoalan perut menjadi inti serentetan cerita lucu ini: bahwa lapar bisa mematikan otak manusia hingga melupakan hakekat benar-salah dan baik-buruk. Tapi Karto tidak. Setidaknya, belum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa? Saat manusia berlomba menyatakan hasrat untuk mati syahid, Karto, malah mati mengenaskan: ketabrak mobil ketika hendak menyelamatkan nyawa ibunya yang keracunan pentol bakso.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karto hanya salah satu cerita. Beberapa kisah dalam buku, mungkin kisah biasa, klise bahkan bisa jadi satu diantara kita pernah mengalaminya. Tapi penulis berkisah dengan cerdas dan luar biasa menggelitik. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Percakapan yang ditulis Juslifar sarat akan bahasa sehari-hari masyarakat Jawa Timur-an. Pembaca bisa tergelak sekaligus terharu. Ada manusia hidup fakir yang berjuang untuk tidak jadi kafir (baca: melupakan Tuhan) cuma karena tak bisa makan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kerebritis terbilang menghibur. Tapi, bagi yang tidak mengerti bahasa Suroboyoan, mungkin buku ini akan terasa hambar dan tidak lucu. Meski begitu, penulis tetap menyediakan glossarium yang cukup untuk dimengerti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(Sumber asli http://news.id.msn.com/local/okezone/article.aspx?cp-documentid=2678507)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/body.content&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5620817435471515453-4385819649106420331?l=kerebritis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kerebritis.blogspot.com/feeds/4385819649106420331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5620817435471515453&amp;postID=4385819649106420331' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/4385819649106420331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/4385819649106420331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerebritis.blogspot.com/2009/03/kerebitis-hidup-kere-mati-juga-kere.html' title='KEReBITIS: Hidup Kere, Mati Juga Kere'/><author><name>Admin Staff</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5620817435471515453.post-6356868770688142701</id><published>2009-02-24T04:47:00.003+07:00</published><updated>2009-02-24T05:03:17.956+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi KEReBRITIS'/><title type='text'>PONARI : Kerebritis Baru?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://surabaya.detik.com/images/content/2009/02/11/473/ponari-insert.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 330px; height: 330px;" src="http://surabaya.detik.com/images/content/2009/02/11/473/ponari-insert.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Percaya atau tidak, kalau dihitung-hitung pendapatan Ponari, si bocah dukun ajaib perharinya bisa mencapai Rp. 50 juta. Ini dihitung dengan terjualnya karcis seharga %p. 5000,- perbuah yang seharinya bisa terjual 10.000 buah. Ini saja belum termasuk sumbangan sukarela dari orang-orang yang sering memberi lebih di kotak sumbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sehari Ponari dengan batu ajaibnya bisa melayani sekitar 5000 orang lebih sejak dirinya diperbolehkan membuka praktek kembali. 5000 orang sengaja dibatasi supaya si Ponari tidak kecapean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ponari berhenti sekolah?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat mendadak terkenal, Ponari yang masih bocah yang bersekolah di kelas 1 SD harus meninggalkan sekolahnya sementara waktu. Dia sudah tidak masuk sekolah sejak 3 minggu lalu sejak membuka praktek menjadi dukun berobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya yang tadinya tetap ingin supaya Ponari sekolah, tidak bisa berbuat banyak. Istrinya melarang praktek Ponari ditutup supaya si bocah ajaib ini bisa bersekolah. Akibatnya orang tua Ponari bersitegang, dan akhirnya kerabat dari pihak keluarga ibu Ponari sempat terlibat baku hantam dengan ayah Ponari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Ponari sempat diberi bogem mentah hingga pingsan oleh kerabat isitrinya dan harus dirawat di rumah sakit. Sungguh tragis memang, tadinya ayah dan ibu Ponari walau hidupnya susah tapi keduanya rukun, tapi ketika 'mendadak kaya', keduanya saling baku hantam.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Rumah Ponari Diawasi Polisi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak jadi terkenal dan diserbu warga, polisi ikut mengawasi rumah Ponari setiap hari. Selain itu polisi juga ikut menjaga antrian warga supaya jangan sampai terjadi kasus orang terinjak-injak akibat antrian yang panjang dan sering berdesak-desakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber : http://www.igaul.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=2079&amp;amp;Itemid=29)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5620817435471515453-6356868770688142701?l=kerebritis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kerebritis.blogspot.com/feeds/6356868770688142701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5620817435471515453&amp;postID=6356868770688142701' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/6356868770688142701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/6356868770688142701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerebritis.blogspot.com/2009/02/ponari-kerebritis-baru.html' title='PONARI : Kerebritis Baru?'/><author><name>Admin Staff</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5620817435471515453.post-1259497001614816009</id><published>2009-02-24T04:33:00.002+07:00</published><updated>2009-02-24T04:38:44.364+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi KEReBRITIS'/><title type='text'>Kesehatan Menentukan Status Miskin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4Lrfo-ewg_E/SaMWx3MwELI/AAAAAAAAAn0/YTAMLUjUw2U/s1600-h/sakit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 146px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4Lrfo-ewg_E/SaMWx3MwELI/AAAAAAAAAn0/YTAMLUjUw2U/s400/sakit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306109831859409074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Status kesehatan individu sangat menentukan seseorang dikategorikan miskin. Seseorang yang sakit walaupun memiliki pekerjaan bisa masuk kategori miskin. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, Amelia Meika S.Sos, MA menyatakan status kesehatan, tingkat pendidikan tersebut merupakan faribel yang penting untuk menentukan kemiskinan secara subjektif.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bicara dalam Seminar 'Mengukur Kemiskinan Subjektif di Indonesia', di Gedung Masri Singarimbun UGM, Jumat (20/2), dia menyatakan kemiskinan tidak hanya diukur dengan mengukur variabel objektif.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut dia variabel kemiskinan subjektif perlu mendapat perhatian dalam menentukan status sosial. Selama ini ukuran miskin selalu dilihat dari kondisi nyata fisik tanpa ditelaah latar belakang seseorang miskin atau tidak miskin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengajar sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Politik UGM, menyatakan mengukur angka kemiskinan dengan mengutamakan standar hidupnya sama pentingnya mengukur kemiskinan dengan kondisi obyektif seseorang.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurutnya kondisi moneter bukan alasan tunggal seseorang atau rumah tangga miskin. Seseorang hidup dalam rumah tangga memiliki pendapatan atau pengeluaran per kapita di bawah garis kemiskinan bisa saja tidak membuat seseorang merasa miskin atau tidak miskin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tingkat pendidikan dan status kesehatan justru berpengaruh sangat menentukan kemiskinan seseorang. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seseorang dengan pendidikan tinggi, dengan status mahasiswa atau pelajar akan menganggap tidak miskin walaupun tidak memiliki pekerjaan. Sebab tidak memiliki tanggungan ekonomi terhadap keluarga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebaliknya seorang dengan status kesehatan tidak bagus atau menderita sakit walaupun memiliki pekerjaan bisa merasa miskin. Ketidakmampuan melakukan kegiatan sehari-hari, menyebabkan orang merasa miskin atau potensi miskin sebab tidak dapat bekerja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Saat mereka berada pada level kesehatan tertentu dan bisa melakukan berbagai kegiatan, maka akan mengganggap dirinya bukan termasuk orang miskin," kata dia. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan melihat kondisi subjektif individu, maka mengukur kemiskinan bisa lebih cermat dan lengkap."Kemiskinan subjektif merupakan indikator penting untuk mengukur kesejahteraan," ujar Amalia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&amp;amp;id=60353)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5620817435471515453-1259497001614816009?l=kerebritis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kerebritis.blogspot.com/feeds/1259497001614816009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5620817435471515453&amp;postID=1259497001614816009' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/1259497001614816009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/1259497001614816009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerebritis.blogspot.com/2009/02/kesehatan-menentukan-status-miskin.html' title='Kesehatan Menentukan Status Miskin'/><author><name>Admin Staff</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4Lrfo-ewg_E/SaMWx3MwELI/AAAAAAAAAn0/YTAMLUjUw2U/s72-c/sakit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5620817435471515453.post-2625636870954377066</id><published>2009-02-24T03:58:00.002+07:00</published><updated>2009-02-24T04:03:40.270+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi KEReBRITIS'/><title type='text'>Kerebritis in the REAL LIFE?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.jawapos.co.id/imgall/1/imgori/5373large.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 358px;" src="http://www.jawapos.co.id/imgall/1/imgori/5373large.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Cak To (Nama Samaran) - Bos Pengemis Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ''karir''-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V &lt;i&gt;kinclong&lt;/i&gt; keluaran 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski punya mobil yang &lt;i&gt;kinclong&lt;/i&gt;, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ''orang mampu''. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ''Yang penting halal,'' ujarnya mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurtu dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ''Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,'' ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mengemis di Bangkalan kurang ''menjanjikan'', awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ''bakat'' Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ''Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,'' ungkapnya bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ''&lt;i&gt;Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet&lt;/i&gt; (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),'' tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ''Kami berpencar kalau mengemis,'' jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ''ilmu'' dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ''Pokoknya sudah enak,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ''Saya pernah beli oleh-oleh sebuah &lt;i&gt;tape recorder&lt;/i&gt; dan TV 14 inci,'' kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang ''keberhasilan'' Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ''Kasihan, panen mereka gagal. &lt;i&gt;Ya&lt;/i&gt; sudah, saya ajak saja,'' ujarnya enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ''Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,'' tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ''pos khusus'', Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ''Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,'' ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ''Amal itu &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ''Saya ingin naik haji,'' ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti... &lt;b&gt;(ded/aza)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&amp;amp;nid=5373)&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5620817435471515453-2625636870954377066?l=kerebritis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kerebritis.blogspot.com/feeds/2625636870954377066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5620817435471515453&amp;postID=2625636870954377066' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/2625636870954377066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/2625636870954377066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerebritis.blogspot.com/2009/02/kerebritis-in-real-life.html' title='Kerebritis in the REAL LIFE?'/><author><name>Admin Staff</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5620817435471515453.post-8168311961321562352</id><published>2008-12-29T03:19:00.001+07:00</published><updated>2008-12-29T03:22:31.870+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi KEReBRITIS'/><title type='text'>Siapa dalang Bakso Tikus? Bagian 2  (Inspirasi KEReBRITIS)</title><content type='html'>&lt;span class="judul"&gt;Trans TV Dituntut Buka Identitas Pedagang Bakso Tikus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="date"&gt;Rabu, 18/01/2006 19:58 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="reporter"&gt;   &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Bandung&lt;/strong&gt; - Pedagang bakso Bandung masih meradang dengan liputan Trans TV soal bakso tikus. Mereka meminta agar pihak Trans TV membuka narasumber pedagang bakso daging tikus. Para pedagang ini juga mengancam pihak Trans TV jika tidak bisa membuktikan kebenaran adanya pedagang bakso daging tikus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sepanjang kami berdagang bakso, ini paling menyakitkan bagi kami. Pascaliputan itu kami merasa dihakimi oleh masyarakat luas," ungkap Ketua Paguyuban Pedagang Bakso (PBB) Bandung, Suparno Suud geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disampaikan Suud saat berdialog dengan Direktur Utama Trans TV, Ishadi SK yang berlangsung di ruang rapat Komisi Penyiaran Indonesia Jabar, Jalan Trunojoyo, Rabu (18/1/2006) di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menilai liputan Trans TV yang menggunakan ilustrasi pembuatan bakso tikus terlalu menyudutkan para pedagang bakso umumnya. Ilustrasi pedagang bakso daging tikus terlalu berlebihan dan mengada-ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu dekat ini, para pedagang bakso ini akan melaporkan kasus adanya pedagang bakso tikus ini ke pihak kepolisian. Mereka meminta agar pihak kepolisian segera mengusut tuntas perihal adanya pedagang bakso tikus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk mendesak agar pihak kepolisian juga melakukan penyidikan pedagang bakso tikus yang digunakan narasumber oleh pihak Trans TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, pada akhir pekan ini para pedagang bakso ini akan menggelar makan bakso gratis di lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akan menyiapkan sekitar 50 ribu mangkuk bakso yang diangkut sekitar 500 roda baso keliling. Biaya pembuatan bakso massal ini sendiri diperkirakan memakan biaya sekitar Rp 250 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog ini sendiri berlangsung cukup ramai dan berjalan hingga 2 jam. Dalam dialog tersebut Dirut Trans TV, Ishadi Sk menjelaskan bahwa pihaknya siap membantu mengembalikan citra para pedagang baso saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para pedagang bakso, ia menuturkan bahwa pihaknya memiliki tugas untuk mengawasi dan melakukan pemberitaan perihal yang penting untuk publik. Salah satunya adalah adanya penemuan kasus pedagang bakso yang menjual dengan menggunakan daging tikus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami sadar komunitas pedagang bakso ini sangat kuat. Makanya protes. Tapi kalau minta ganti rugi pada kita, tidak benar dong," ungkapnya singkat.&lt;br /&gt;&lt;span class="reporter"&gt;&lt;strong&gt;Ahmad Yunus&lt;/strong&gt; - detikNews&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;dikutip dari &lt;a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/01/tgl/18/time/195820/idnews/521572/idkanal/10"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5620817435471515453-8168311961321562352?l=kerebritis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kerebritis.blogspot.com/feeds/8168311961321562352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5620817435471515453&amp;postID=8168311961321562352' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/8168311961321562352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/8168311961321562352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerebritis.blogspot.com/2008/12/siapa-dalang-bakso-tikus-bagian-2.html' title='Siapa dalang Bakso Tikus? Bagian 2  (Inspirasi KEReBRITIS)'/><author><name>Admin Staff</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5620817435471515453.post-1547117384269222922</id><published>2008-12-29T03:04:00.002+07:00</published><updated>2008-12-29T03:08:00.855+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi KEReBRITIS'/><title type='text'>Siapa dalang Bakso Tikus?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.gatra.com/images/gambar/174/6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 175px;" src="http://www.gatra.com/images/gambar/174/6.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;i&gt;Trans TV&lt;/i&gt; Tolak Beberkan Narasumber Bakso Tikus&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Jangski/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Jangski/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-1.jpg" alt="" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="tanggal"&gt;Jakarta, 20 Januari 2006 09:08&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Presiden Direktur PT Televisi Transformasi Indonesia (&lt;i&gt;Trans TV&lt;/i&gt;) Ishadi SK menyatakan bahwa pihaknya tetap menjaga identitas pelaku pembuat bakso tikus. Ia menolak tuntutan para pedagang bakso yang berdemo di depan kantor stasiun televisi tersebut beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita harus menjaga sumbernya dong. Masalahnya bukan mencari sumbernya, tapi masalah tikusnya," tegas Ishadi kepada &lt;i&gt;Gatra.com&lt;/i&gt;, dalam gelar kampanye makan bakso bersama di pelataran parkir &lt;i&gt;Trans TV&lt;/i&gt;, Kamis (19/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Ishadi juga menjelaskan bahwa tudingan adanya rekayasa dalam tayangan yang mengungkap pembuatan bakso dengan bahan mentah tikus mati tersebut adalah suatu hal yang tidak benar. Ia menyatakan bahwa fakta pembuatan bakso tikus itu ada, dan pihaknya hanya sebatas menyiarkan fakta tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebetulnya soal bakso tikus ini sudah lama, sekitar sepuluh tahun-an mungkin. Dan banyak tukang bakso tahu siapa yang jualan, jadi bukan suatu hal yang baru," ujar Ishadi yang turut menghabiskan semangkok bakso bersama sejumlah anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sebatas hanya menyiarkan fakta, namun Ishadi mengakui sempat terkejut melihat dampak pasca penayangan tersebut yang menyebabkan kerugian bagi para penjaja bakso, sampai kantornya pun ikut didemo. Namun, menurutnya pemicu utama dari kasus ini adalah kasus formalin dan boraks yang tak kalah maraknya dengan bakso tikus. "Itu karena digabung dengan bakso tikus, sehingga dampaknya lebih besar," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan para penjaja bakso kepada &lt;i&gt;Trans TV&lt;/i&gt; saat berdemo beberapa waktu lalu, dengan menuntut stasiun televisi yang bermarkas di kawasan Mampang ini sepertinya tidak semudah itu. Selain telah bersepakat dengan pelaku, &lt;i&gt;Trans TV&lt;/i&gt; juga belum diminta oleh aparat kepolisian untuk mengungkapkan identitasnya. Namun, Ishadi menyebutkan bahwa pihak kepolisian sudah memiliki rekaman tayangan tersebut, serta telah mengetahui sejumlah lokasi 'dapur' pembuatan bakso tikus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu pasca penayangan tersebut, stasiun televisi ini memang gencar melakukan upaya untuk memulihkan citra para penjaja bakso di berbagai kota. Kemarin, &lt;i&gt;Trans TV&lt;/i&gt; dan belasan penjaja baso gerobak yang menyediakan puluhan ribu butir bakso digaet guna mempromosikan perbaikan citra tersebut dengan acara makan bakso bareng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, upaya tersebut belum dapat memuaskan sebagian penjaja bakso yang datang tanpa gerobak. Rata-rata dari mereka tidak puas dengan pergelaran acara yang juga mengundang sejumlah artis, karyawan &lt;i&gt;Trans TV&lt;/i&gt;, serta Bank Mega ini. Mereka memilih untuk pulang ketimbang mengikuti acara yang menurut mereka tak cukup hanya sebatas makan bakso bareng, namun masalah yang penting adalah pemasukan dari mata pencaharian mereka sebagai penjaja baso kian hari makin merosot. &lt;b&gt;[EL]&lt;/b&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikutip dari &lt;a href="http://www.gatra.com/2006-01-20/artikel.php?id=91602"&gt;sini.&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5620817435471515453-1547117384269222922?l=kerebritis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kerebritis.blogspot.com/feeds/1547117384269222922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5620817435471515453&amp;postID=1547117384269222922' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/1547117384269222922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/1547117384269222922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerebritis.blogspot.com/2008/12/siapa-dalang-bakso-tikus.html' title='Siapa dalang Bakso Tikus?'/><author><name>Admin Staff</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5620817435471515453.post-1852001970773728154</id><published>2008-12-29T03:01:00.002+07:00</published><updated>2008-12-29T03:03:28.301+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi KEReBRITIS'/><title type='text'>Tikus masuk Bakso</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Sekitar 500 tukang bakso, yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Bakso se-Jabotabek, berdemonstrasi di depan pintu gerbang stasiun Trans TV, Jakarta Selatan, 12 Januari 2006. Mereka memprotes penayangan segmen “bakso tikus” pada 31 Desember 2005. Selain itu, para tukang bakso juga sudah menyiapkan 15 truk dengan massa dari Tangerang dan Bekasi untuk “menyerbu” Trans TV. Untungnya, berkat pendekatan persuasif dari pihak Trans TV, rencana itu akhirnya dibatalkan.&lt;a name="_ftnref8"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="post-create.g?blogID=7800575#_ftn8"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Secara kaidah jurnalistik, sebenarnya tidak ada yang salah dengan liputan factual itu, yang narasumbernya jelas dan dibuat secara berimbang. Namun, tukang bakso merasa berang, karena omzet penjualan mereka –yang sudah merosot sejak merebaknya laporan tentang bakso dengan bahan pengawet formalin—makin ambruk dengan ramainya isu “bakso tikus.”&lt;/p&gt; Tekanan dari massa pedagang bakso dengan bisnis terkait (penjual daging sapi, bakmi, dan sebagainya) menghasilkan kesepakatan, di mana pihak Trans TV setuju untuk menghentikan penayangan segmen “bakso tikus” tersebut. Selama dua minggu sesudahnya, Trans TV juga menayangkan sejumlah event yang diselenggarakan oleh para tukang bakso, untuk menunjukkan bahwa banyak tukang bakso yang membuat bakso secara “benar.” Selain itu, diadakan kampanye makan bakso bersama di gedung Trans TV dan di Bandung. Namun, di luar itu, Trans TV tidak memberi kompensasi apapun dalam bentuk uang kepada para tukang bakso.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;dikutip dari &lt;a href="http://emjaiz.wordpress.com/2008/05/28/dari-bakso-tikus-hingga-smack-down-kasus-kasus-sensor-terhadap-tayangan-stasiun-tv-swasta-di-era-pasca-soeharto/"&gt;blog pak jaiz &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5620817435471515453-1852001970773728154?l=kerebritis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kerebritis.blogspot.com/feeds/1852001970773728154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5620817435471515453&amp;postID=1852001970773728154' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/1852001970773728154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/1852001970773728154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerebritis.blogspot.com/2008/12/tikus-masuk-bakso.html' title='Tikus masuk Bakso'/><author><name>Admin Staff</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5620817435471515453.post-6701265772319965329</id><published>2008-12-29T02:44:00.002+07:00</published><updated>2008-12-29T02:54:34.118+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi KEReBRITIS'/><title type='text'>Anjuran makan Tikus</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Seorang pejabat di negara bagian Bihar, India, mengungkapkan gagasan baru untuk mendorong warga miskin dari kasta terendah di negara itu mengatasi kekurangan pangan - daging tikus.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;img style="width: 135px; height: 202px;" src="http://www.jawaban.com/news//userfile/Makan-Tikus.jpg" alt="" align="right" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Menteri Utama Departemen Kesejahteraan Sosial di negara bagian itu, Vijay Prakash, mengatakan dia mengajukan usulan itu setelah "melakukan banyak survei dan penelitian lapangan". &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Masyarakat Musahar di Bihar yang sangat miskin punya kebiasaan memakan tikus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Penduduk Musahar berada di urutan terbawah dalam sistem kasta di India, dengan tingkat melek huruf dan perdapatan per kepala terendah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Kurang dari satu persen dari 2,3 juta penduduk Musahar di Bihar bisa membaca dan 98% dari mereka tidak memiliki lahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Makanan lezat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Prakash mengatakan usulannya untuk mempopulerkan daging tikus bertujuan untuk memperbaiki kondisi sosial-ekonomi mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;"Ada keuntungan ganda dari proposal ini. Pertama, kami bisa menghemat sekitar separuh dari simpanan biji-bijian kami dengan menangkap dan memakan tikus dan yang kedua, kami bisa memperbaiki kondisi perekonomian masyarakat Musahar," katanya kepada BBC. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Menurut Prakash, sekitar 50% dari total simpanan biji-bijian di negara itu dimakan oleh &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;tikus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Dia mengatakan dengan mempromosikan daging tikus, jumlah simpanan biji-bijian yang dapat diselamatkan lebih besar sementara tingkat kelaparan di kalangan masyarakat Musahar akan dapat dikurangi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Dia mengatakan daging tikus tidak hanya makanan lezat tetapi juga kaya akan protein, dan daging tikus digemari di Thailand dan Prancis. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;"Tikus hampir tidak memiliki tulang dan bergizi. Banyak orang tidak menyadari fakta kuliner ini tetapi lama-lama mereka akan tahu." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Namun Prakash kemungkinan akan sulit mempopulerkan strategi semacam ini di masyarakat yang konservatif seperti di Bihar dan negara-negara bagian lainnya di India utara. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Prakash mengatakan dia punya resep yang membuat daging tikus menjadi santapan lezat, yang sekarang akan dia sebarkan ke semua hotel di Bihar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Dia juga mendorong pertanian tikus sama seperti pertanian ayam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Meski memakan daging tikus masih menjadi stigma di daerah-daerah perkotaan, Prakash mengatakan penelitian yang dia lakukan mengungkapkan bahwa tikus adalah makanan kegemaran di sebagian daerah Bihar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;sumber :http://www.jawaban.com/news/health/detail.php?id_news=081111142826&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5620817435471515453-6701265772319965329?l=kerebritis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kerebritis.blogspot.com/feeds/6701265772319965329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5620817435471515453&amp;postID=6701265772319965329' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/6701265772319965329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/6701265772319965329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerebritis.blogspot.com/2008/12/anjuran-makan-tikus.html' title='Anjuran makan Tikus'/><author><name>Admin Staff</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5620817435471515453.post-8724725974376524127</id><published>2008-11-12T19:04:00.000+07:00</published><updated>2008-11-12T19:07:16.226+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>KEREBRITIS; KEKAYAAN DARI KAUM KERE</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Tak ada yang senang hidup miskin. Apalagi bercita-cita hidup miskin. Karena kemiskinan identik dengan kesengsaraan, kemelaratan, kehinaan, ketidak berdayaan,... dan sederet embel-embel lainnya yang pasti sungguh tidak menyenangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Jikalau ada orang hidup senang miskin, pastilah orang tersebut termasuk dalam tingkatan seorang wali Allah. Dan hanyalah baginda nabi Muhammad saw yang sungguh-sungguh berdoa dan bercita-cita hidup miskin. Sungguhpun demikian, baginda nabi saw selalu mewanti-wanti ummatnya untuk tidak hidup dalam kemiskinan, karena kemiskinan dekat dengan kekafiran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Namun tokoh-tokoh –yang sebagian besar diwakili oleh ‘Karto’—dalam kumpulan cerpen Kerebritis karya Juslifar M. Junus ini bukanlah waliyullah. Bukan pula pengamal doa nabi Muhammas saw. Karto dan teman-temannya hidup miskin lantaran dipojokkan oleh nasib yang menghimpit mereka. Kemiskinan adalah kenyataan yang mesti mereka terima sebagai bagian kehidupan sehari-hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Kemiskinan. Inilah yang menjadi tema dasar dari kumpulan cerpen Kerebritis karya Juslifar M. Junus ini. Menjadikan kemiskinan sebagai tema bukanlah sesuatu yang hebat. Karena di negeri ini, kemiskinan dan orang-orang miskin pun sudah jadi bagian kehidupan di negara kita. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Tidak ada bagian dinegeri ini yang tidak terdapat orang miskin. Tidak perlu diperdebatkan berapa banyak orang miskin. Yang pasti jumlahnya melebihi orang-orang kaya yang berkuasa di negeri kita tercinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Tapi menjadikan kemiskinan sebagi tema sebuah karya membutuhkan energi empati yang besar. Itulah yang tergambar dalam diri sang penulis Kerebritis dalam kupulan cerpennya ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Kemiskinan, memang kerapkali menjadi komoditi yang menguntungkan untuk mencapai keinginan seseorang atau sekelompok orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Kaum kaya sering menjadikan orang miskin sebagai bahan komoditas eksploitasi untuk mendapatkan buruh dengan upah rendah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;“ Adalah sudah menjadi kodratnya menjadi orang kaya yang gemar mempermainkan orang miskin. Tapi baginya hal itu bukanlah hal yang terlampau jahat, sama saja dengan orang pintar yang doyan mempermainkan orang tolol. Orang kuat yang suka memainkan orang lemah. Orang sehat yang senang mempermainkan orang sakit.”&lt;/i&gt; (Sepotaker).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Sering memang, kemiskinan dijadikan komoditas bagi seorang politikus untuk mencapai kekuasaan. Kemiskinan tidak jarang dijadikan bahan partai politik untuk menyerang oposisinya. Pun tak jarang kemiskinan diolah sedemikian rupa oleh penguasa sebagai alat melanggengkan kekuasaan. Bahkan kemiskinan dijadikan senjata oleh kaum miskin itu sendiri untuk menyuarakan kehendaknya, dengan cara mereka sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;“Tapi ini adalah soal tempe pak!!, saya dan keluarga saya ndak mungkin makan nasi sama garam..saya juga ndak serakah dan aneh-aneh pingin lauk daging atau ikan, saya cuma mau makan nasi sama Tempeee…”&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;(Tapi Ini Soal &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Tempe&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Melalui empatinya terhadap kemiskinan, Juslifar M.Junus merasa dekat dengan subyek, bahkan sangat dekat. Namun mampu menjaga jarak untuk tidak ikut-ikutan menjadikan temanya sebagai obyek penderita. Sehingga karya-karyanya mampu ditampilkan apa adanya. Secara utuh. Fokus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Juslifar M. Junus hanya memotret kemudian mencetaknya dalam bentuk cerpen. Ia ibarat pelukis dalam kanvas kalimat-kalimat. Cerpen-cerpennya adalah panggung teater yang menampilkan monolog-monolog tentang kemiskinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Namun demikian, monolog-monolog yang ditampilkan tidak monoton. Juslifar M. Junus dengan cerdik memotret tema yang ditampilkannya dari berbagai sudut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Kerebritis jadi simbol perlawanan. Perjuangan kaum miskin untuk melepaskan diri dari jeratan nasibnya yang sumpah mati tidak mereka inginkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;“ &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;…..supaya status fakir miskin ndak berangsur-angsur jadi kafir miskin, hehehe..”&lt;/i&gt; (Sorganya Mbahmu)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Orang kaya tidak pernah ingin miskin. Orang miskin tidak ingin miskin selamanya. Orang kaya sering ngomong bahwa soal miskin atau kaya hal yang biasa saja. Sama saja. Itu karena mereka sedang kaya. Dan terus berupaya dengan cara apa saja untuk tetap bisa kaya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;“ Jaman Penjajahan baik jepang atau Belanda, yang bisa jadi Wedono, Lurah atau Pejabat pasti dicurigai sebagai pengkhianat. Karena mereka selalu nunduk-nunduk dan milih kerjasama dengan para penjajah. Jadi mereka bisa terus bertahan sebagai warga kelas Sugeeh alias kaya makmur sehingga menjaga anak turunnya jangan sampek kere kayak kamu..”&lt;/i&gt; (Kere Sejak Dulu Kala (h)…)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;Bagi kaum kere tentu miskin kaya tidak sama. Makannya sama, sama-sama lewat mulut. Tapi soal apa yang dimasukkan dan berapa banyak masuknya tentu tidak sama. Kere atau kaya sama-sama berpakaian. Soal jenis dan harga bahannya pasti tidak sama. Kalau ngantuk, orang kaya atau miskin ya tidur. Tapi soal dimana tidurnya tentu beda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;“Mungkin karena memang ada kemiripan antara keduanya….., tapi harganya beda jauh. Bagaikan langit dan comberan di bumi.”&lt;/i&gt; (Kerebritis, What The Hell is That?)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;“tapi para kaum kere selalu saja menemukan akal bulus buat menyamarkan. Makan kutu dibilang Petan (cari kutu). Ngemplok tumo beras disamarkan dengan pake buah pisang katanya untuk obat penyakit kuning alias hepatitis. Makan cindil dikatakan supaya kuat mbecak, makan kadal katanya buat obat, makan tekek dibilang buat penolak gatal-gatal.”&lt;/i&gt; (Petan)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;Juslifar M. Junus tidak sedang mengajak kita untuk tertawa menyaksikan tingkah pola kaum kere dalam karya-karyanya. Ketidak berdayaanlah yang memuat mereka seperti itu. Hanya kaum kere yang berhak menertawakan diri mereka sendiri. Egois ? Memang. Karena mungkin itulah cara mereka menghibur diri sendiri. Sebab menangis bagi kaum kere tidak ada gunanya sama sekali. Bersedih, apalagi menangis tidak akan mengangkat harkat mereka ke jenjang hidup kaya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;“Mboknya Karto memutuskan untuk tak menangis. Adalah nista menjatuhkan airmata untuk memuaskan kerumunan orang yang tak henti menontonnya. Adalah haram memperlihatkan kelemahan hati buat orang-orang yang tak punya nurani. Adalah tabu menunjukkan remuk redam dan pahit nasib kepada orang-orang yang nonton kematian sambil makan kwaci.” &lt;/i&gt;(Karto Kere dan Mboknya Yang Nyaris Bongko)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;Membaca Kerebritis, bukan berarti tanpa kelemahan. Tapi apalah arti kelemahan jika kita menerima begitu banyak kelebihan. Sama seperti apalah arti kemiskinan jika kita menerima banyak kekayaan justru dari orang-orang yang kita pandang miskin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;Walhasil, kumpulan cerpen dengan tema biasa-biasa saja (namun dengan sentuhan luar biasa) ini merupakan sebuah oase ditengah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;padang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; individualisme, konsumerisme, hedonisme, dan isme-isme lainnya yang acapkali menyesatkan di dunia modern. Karena pada dasarnya Tuhan mewajibkan kita menjaga harmonisasi kehidupan sosial.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;Maka membaca buku ini seharusnya menjadi menu wajib santapan jiwa, makanan rohani kita selain teks-teks agama. Dan yang pasti, saya terus merindukan Juslifar M. Junus terus melahirkan menu-menu wajib bagi santapan rohani kita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;Dan apabila ada diantara kita yang sedang dihimpit kemiskinan, barangkali patut dibaca resep dari penulis :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;“Kata Mbah Ndrongos, banyak makan Brutu bikin kita cepat pikun lho Lek.."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;"Hahaha...malah enak toh,..kita jadi cepat lupa kalo kita ini hidupnya sengsara .."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;(Brutu Philosophia)&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="right" style="text-align:right;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Sumenep, 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="right" style="text-align:right;line-height:150%"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;u&gt;*EN. Hidayat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5620817435471515453-8724725974376524127?l=kerebritis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kerebritis.blogspot.com/feeds/8724725974376524127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5620817435471515453&amp;postID=8724725974376524127' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/8724725974376524127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/8724725974376524127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerebritis.blogspot.com/2008/11/kerebritis-kekayaan-dari-kaum-kere.html' title='KEREBRITIS; KEKAYAAN DARI KAUM KERE'/><author><name>Admin Staff</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5620817435471515453.post-7354438153180006875</id><published>2008-10-21T13:50:00.000+07:00</published><updated>2008-10-21T14:07:30.583+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='About Kerebritis'/><title type='text'>Kerebritis, What a hell is that?!</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membaca kumpulan cerita Kerebritis, ada&lt;br /&gt;baiknya memahami terlebih dahulu apa itu selebritis, dan&lt;br /&gt;mahluk apa pula yang disebut kerebritis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selebritis menurut Wikipedia:&lt;br /&gt;Kata majemuk yang berasal dari Bahasa Inggris Celebrity&lt;br /&gt;(Kata benda). Secara etimologi kata ini berasal dari bahasa&lt;br /&gt;Perancis kuno : célébrité.&lt;br /&gt;- a person who has a high degree of recognition&lt;br /&gt;by the general population;&lt;br /&gt;- fame&lt;br /&gt;- the quality of being a famous person&lt;br /&gt;- Seseorang yang memiliki derajat tinggi karena&lt;br /&gt;dikenal oleh masyarakat luas,&lt;br /&gt;- Terkenal&lt;br /&gt;-Kualitas yang di dapat karena menjadi orang&lt;br /&gt;terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Kerebritis menurut EYD (Ejaan Yang&lt;br /&gt;Dimaklumi) adalah :&lt;br /&gt;Kata majemuk yang berasal dari asal bahasa campuran,&lt;br /&gt;Jawa dan Bahasa Inggris yang sudah di adopsi menjadi&lt;br /&gt;bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;- Seseorang yang memiliki derajat rendah&lt;br /&gt;karena melarat, atau miskin alias kere di&lt;br /&gt;lingkungan masyarakat manapun.&lt;br /&gt;- Tidak terkenal. Kalaupun terkenal karena&lt;br /&gt;banyak hutang yang tak mampu dibayarnya.&lt;br /&gt;-Kualitas hidup yang mau tak mau harus dipikul&lt;br /&gt;akibat menjadi orang melarat, atau miskin&lt;br /&gt;alias kere.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi tambahan dari penulis:&lt;br /&gt;Kerebritis adalah seorang kere yang berlagak dan merasa&lt;br /&gt;menjadi selebritis. Mungkin karena memang ada&lt;br /&gt;kemiripan antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaos para kere compang-camping, penuh lubang, sekilas&lt;br /&gt;mirip T-Shirt &amp; Apparel produk Volcom atau Billabong.&lt;br /&gt;Celananya sobek di bagian dengkul, mbladus alias pudar&lt;br /&gt;warnanya, bolong bagian dekat pantat, sekilas mirip&lt;br /&gt;dengan merek Levi's Strauss atau jeans denim lain yang&lt;br /&gt;sering dipakai artis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan keliru, kalau lubang dan kain tambalan produk&lt;br /&gt;Volcom memang konsep dari pabrik. Sementara lubang&lt;br /&gt;dan compang-camping baju para kere bukan dari pabrik,&lt;br /&gt;bukan pula beli di gerai CitySurf.&lt;br /&gt;Semua itu di dapat dari petualangannya sebagai insan&lt;br /&gt;kere. Lubangnya mungkin dari percikan bara api kretek&lt;br /&gt;Retjo Pentung, sobeknya mungkin dari kecantol kawat&lt;br /&gt;atau saat nggandol truk sampah. Warna pudar alias&lt;br /&gt;mbladus karena memang cuma punya satu dan dipakai&lt;br /&gt;terus-terusan. Tambalan dari kain seadanya dan hampir&lt;br /&gt;pasti nggak matching dengan warna baju asalnya. Karena&lt;br /&gt;pertimbangannya bukan mode, tapi biar tidak masuk&lt;br /&gt;angin dan kelihatan panunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ketemu para kere dan melihat rambutnya, jangan&lt;br /&gt;menuduh rambut mereka sok dibentuk acak-acakan ke&lt;br /&gt;atas. Itu karena memang jarang keramas dan ndak gablek&lt;br /&gt;buat beli sisir. Mereka nyisir rambut cuma waktu ada&lt;br /&gt;undangan bancakan kampung. Itupun nyisir rambutnya&lt;br /&gt;pake garpu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa para kere tidak pernah keramas atau creambath?&lt;br /&gt;Oh tentu saja pernah. Tapi keramasnya ndak pernah pake&lt;br /&gt;shampoo, melainkan pake sabun colek atau sabun batang&lt;br /&gt;yang tadinya dipake mandi. Creambathnya gimana? Kalau&lt;br /&gt;kutu di rambut sudah makin parah, mereka bahkan&lt;br /&gt;creambath pake minyak tanah. Kata mereka, biar kapok&lt;br /&gt;para tumo-tumo ngelamak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tertipu kalau lihat mereka pake kacamata super&lt;br /&gt;gede, memang gayanya begitu. Pinginnya sih dianggap&lt;br /&gt;mirip David Naif atau bahkan Elton John. Padahal paling&lt;br /&gt;banter mirip Mus Mulyadi atau bahkan mirip Cak&lt;br /&gt;Markeso. Lihat baik-baik, gagang kacamatanya itu&lt;br /&gt;sebenarnya sudah diikat kawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal alas kaki?&lt;br /&gt;Lhaaa…ini salah satu weak point alias kelemahan para&lt;br /&gt;kerebritis. Mereka jarang hapal merk sepatu mahal.&lt;br /&gt;Karena itu mereka sering tertipu saat beli sepatu di Pasar&lt;br /&gt;Kaget. Merk Egel dikira sama dengan merk Eagle, merk&lt;br /&gt;Niko disangka sama dengan merk Nike. Poma dianggap&lt;br /&gt;sama dengan Puma, Pila dianggap sama dengan Fila.&lt;br /&gt;Blegernya sih serupa, tapi harganya beda jauh. Bagaikan&lt;br /&gt;langit dan comberan di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung kerebritis itu belum terlalu banyak update&lt;br /&gt;mode sepatu belang blonteng a la ABG Gaul yang&lt;br /&gt;menggabungkan sepatu Converse warna merah di kaki&lt;br /&gt;kiri, sementara sepatu Airwalk warna hitam di kaki kanan.&lt;br /&gt;Coba kalau mereka sudah tahu, wah pasti makin besar&lt;br /&gt;kepala dan makin pede pake sepatu sisian.&lt;br /&gt;Tahukah anda, mereka pake sepatu atau sandal sisian&lt;br /&gt;itu karena memang sering kali kehilangan alas kaki.&lt;br /&gt;Sepatunya sering digondol tikus karena bau terasi&lt;br /&gt;lantaran ndak pernah pake kaos kaki. Kalau disalahkan&lt;br /&gt;ndak mau. Katanya, daripada dibelikan kaos kaki, mending&lt;br /&gt;buat beli beras. Lha wong bisa punya sepatu itu saja&lt;br /&gt;karena hasil pemberian seorang kenalan. Sepatu&lt;br /&gt;pemberian itu saja sudah mengap. Jadi harus dijahit dulu.&lt;br /&gt;Kalau bukan digondol tikus, alas kaki mereka pasti hanyut&lt;br /&gt;oleh banjir. Kalau tidak begitu, pasti nyangsang di genteng&lt;br /&gt;sehabis buat nyambit kucing yang nekad nyolong ikan&lt;br /&gt;asin satu-satunya milik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika sudah tahu ternyata penampakan para kere&lt;br /&gt;mirip selebriris, mulai sekarang tolong jangan under estimate&lt;br /&gt;sama mereka. Jangan cuma melototi gaya dan&lt;br /&gt;ngikuti trend setting dari kaum selebritis saja.&lt;br /&gt;Karena sebenarnya, mode dan gaya selebritis itu lah yang&lt;br /&gt;imitatif alias nggak orisinil. Bersifat temporer dan bukan&lt;br /&gt;penanda keaslian kondisi nasib hidup yang sejati.&lt;br /&gt;Tatto para selebritis misalnya. Itu cuma penanda&lt;br /&gt;kegenitan mereka pada trend fashion. Coba bandingkan&lt;br /&gt;dengan tatto di lengan Cak Slamet Korak, pasti beda. Yang&lt;br /&gt;selebritis, tattonya bikin di kios tatto yang kini marak di&lt;br /&gt;plaza-plaza. Karena bayar, mereka pun punya kebebasan&lt;br /&gt;buat milih model dan gambar tattonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Cak Slamet Korak ndak bisa milih. Dia&lt;br /&gt;‘terpaksa nurut’ ditatto gambar sekehendak hati korak&lt;br /&gt;yang lebih senior waktu di bui. Salah dia sendiri, sudah&lt;br /&gt;kere kok pake nambah status jadi maling ayam.&lt;br /&gt;Itu yang tatto mawar. Kalau tatto cicak, itu didapat pas&lt;br /&gt;ketangkap basah nyolong jemuran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama Cak Slamet Korak merenung, kalau terus-terusan keluar&lt;br /&gt;masuk bui, wah bisa penuh kulit badannya dengan&lt;br /&gt;gambar tatto binatang yang sama sekali nggak serem.&lt;br /&gt;Ada tatto kadal, tatto nyambik, tatto kodok, tatto lalat,&lt;br /&gt;tatto kecoa, tatto tokek dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dia kan korak alias jagoan. Mosok korak kok&lt;br /&gt;tattonya mawar? Bajingan kok tattonya kadal?&lt;br /&gt;Calon korban atau orang yang lihat tattonya pasti ndak&lt;br /&gt;takut kalau lihat tatto kadal atau tatto kodok. Bahkan&lt;br /&gt;bisa jadi mereka malah ketawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu kali, ia request tatto macan atau naga.&lt;br /&gt;Langsung kepalanya dikeplak sama para korak senior. Kata&lt;br /&gt;mereka, tatto macan itu untuk bajingan yang sudah&lt;br /&gt;berani bunuh orang. Kalau tatto naga, itu bahkan buat&lt;br /&gt;bajingan yang berani bunuh bajingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak Slamet korak langsung mengkeret. Jangankan bunuh&lt;br /&gt;orang, sama tikus got yang besarnya sama dengan&lt;br /&gt;kucingnya saja, dia langsung mengkirik. Mungkin karena&lt;br /&gt;itu dia milih insap. Bukan insaf, tapi insap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau insaf itu buat orang yang berhenti melakukan&lt;br /&gt;kejahatan sekaligus sudah mau sembahyang. Kalau insap,&lt;br /&gt;itu buat pensiunan maling seperti dia, tapi belum&lt;br /&gt;sembahyang. Ini definisi asli dari dia sendiri, bukan definisi&lt;br /&gt;MUI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak Slamet Korak khawatir kalau dia insaf, sudah&lt;br /&gt;sembahyang lalu tiba-tiba kambuh lagi watak malingnya.&lt;br /&gt;Lantaran digoda nasib kerenya, habis sembahyang keluar&lt;br /&gt;masjid terus nyangking selop orang lain kan ndak lucu?&lt;br /&gt;Tapi menurut pengakuan dia, sistem tatto menatto di&lt;br /&gt;bui itu kurang adil. Nyolong jemuran saja ditatto cicak,&lt;br /&gt;nyolong sepeda ditatto kadal, lha orang yang nyolong&lt;br /&gt;anggaran belanja negara alias korupsi di tatto apa? Apa&lt;br /&gt;di tatto gorilla? Di tatto brontosaurus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya di kulit para koruptor itu di tatto gambar wong&lt;br /&gt;kere saja. Biar setiap ngaca, mereka selalu ingat kepada&lt;br /&gt;siapa mereka berdosa. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5620817435471515453-7354438153180006875?l=kerebritis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kerebritis.blogspot.com/feeds/7354438153180006875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5620817435471515453&amp;postID=7354438153180006875' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/7354438153180006875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/7354438153180006875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerebritis.blogspot.com/2008/10/kerebritis-what-hell-is-that.html' title='Kerebritis, What a hell is that?!'/><author><name>Admin Staff</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5620817435471515453.post-481258679158669421</id><published>2008-09-27T14:03:00.004+07:00</published><updated>2008-09-27T17:56:41.955+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Epilog'/><title type='text'>Epilog dari Ilung S.Enha</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4Lrfo-ewg_E/SN3bsOBrjUI/AAAAAAAAAdA/KvTTEN3cxbM/s1600-h/ilung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4Lrfo-ewg_E/SN3bsOBrjUI/AAAAAAAAAdA/KvTTEN3cxbM/s200/ilung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5250594293309738306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;...dari keseluruhan kisah yang ada, hampir-hampir tak dialurkan dengan rasa menghiba. Kemiskinan yang telah berada di titik nadir pun, terurai dengan jalinan kalimat sederhana dan nyaris apa adanya. Ketiadaan pretensi untuk menyulap kemiskinan menjadi barang yang mengkilap, adalah merupakan keistimewaan dari kumpulan cerita pendek ini...&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kerebritis.blogspot.com/2008/09/epilog-dari-ilung-senha.html"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Baca selengkapnya)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Religiusitas Kemiskinan yang Tak Lagi Mengkilap&lt;br /&gt;Oleh Ilung S. Enha*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Kerebritis, ternyata tak sekedar membaca tentang kemiskinan. Sebab penggambaran – atau lebih tepatnya potret – persoalan dari ragam problematika, setting lokasi dan suasana dari situasi kehidupan mereka, benar-benar hidup dan nyaris nyata. Sehingga tak hanya wajah kemiskinan yang berputar-putar di kelopak mata kita, melainkan pula degup suara jantung dan desah nafas yang mendengus di gendang telinga, serta kita pun bisa merasakan keprihatinan dan keletihan jiwa dari “titik jenuh” orang-orang miskin.&lt;br /&gt;Labirin permasalahan dari orang perorang komunitas Kerebritis, benar-benar menyodok hati yang buntu dan perasaan yang mati – terutama bagi pembaca yang masih setia untuk menyisakan dalam jiwanya sekeping nurani. Kontinuitas suspensi yang kerapkali berhenti pada titik koma, secara perspektif neurologis telah menjejalkan informasi yang sambung-menyambung, sehingga mampu menggerakkan milyaran sel saraf dalam tabung otak kita untuk segera melahirkan solusi atau setidaknya responsi dan antisipasi.&lt;br /&gt;Itulah yang menyebabkan sang pengendali di pusat otak memerintahkan milyaran sel saraf tersebut, untuk mengakses situs-situs purba dan membrowsing serta mendownload file-file usang yang sudah karatan dalam lemari besi otak yang bernama memori. Setelah melalui proses diskusi yang alot di ajang debat terbuka dan forum musyawarah, maka disepakatilah kesimpulan-kesimpulan. Dari sanalah kita kemudian dibikin mengerti, bahwa orang-orang miskin adalah merupakan hasil cetakan dari sebuah sistem hidup yang timpang dan culas.&lt;br /&gt;Sistem hidup itu bisa bernama perpolitikan yang busuk, atau format perekonomian yang tanpa ventilasi sedekah – sehingga mengakibatkan jurang si kaya dan si miskin tak pernah sempat untuk menyempit. Sebagai penyebab dan sekaligus akibatnya, adalah distribusi kesempatan dan fasilitas hidup yang sangat tidak berimbang. Fatalnya lagi, sistem hidup semacam itu justru disokong oleh arus komunikasi dan informasi yang senjang, wilayah perkembangan teknologi yang tak merata, dominasi kultural yang terus dipertahankan, serta sikap antipati terhadap tradisi-tradisi yang dianggap bisa “menghambat” jenjang perkembangan dan laju kemajuan zaman.&lt;br /&gt;Sebab ketika dunia tengah berlari menuju sebuah peradaban global village, maka apa saja yang tak sesuai dengan kecenderungan zaman, akan dilindas dan dilibas habis sampai ke akar-akarnya. Sehingga rumusan lain mengatakan, bahwa komunitas Kerebritis adalah lahir dari orang-orang yang telah gagal dalam pergumulan pencariannya untuk dapat meningkatkan skill dan mencapai keterampilan yang baru. Maka lambat laun nasib mereka jadi terpinggirkan, sehingga sama sekali merasa asing tatkala memandang wajahnya di dalam kaca peradaban dan cermin kehidupan. Orang-orang semacam itu harus rela mengongkosi hari depannya sendiri, untuk sanggup secara terus menerus mempertahankan nasibnya di gang-gang sempit kehidupan.&lt;br /&gt;Namun yang menjadi jawaban kunci dari segala kunci fenomena Kerebritis, bahwa mereka sesungguhnya terlanjur memiliki jiwa-jiwa yang miskin – akibat dari pemiskinan kultural psikologis, atau pun memang termiskinkan lantaran tak kuat menahan cercaan dari mikrofon peradaban global. Dus, untuk bisa bangkit dan bahkan dapat keluar dari komunitas Kerebritis, maka jalan utama yang harus dilalui terlebih dahulu, adalah penyadaran kembali bahwa sesungguhnya mereka masih memiliki jiwa-jiwa yang hidup. Pertahanan terakhir itulah yang sebisa mungkin harus mendapatkan penyelamatan, agar mereka tak merasa hidup sebagai orang miskin. Dengan meminjam jargon yang sudah klise; hidup boleh miskin harta, asal jiwa tetap kaya.&lt;br /&gt;Dengan bekal modal kaya hati itulah, seorang Kerebritis bisa mulai menapak kembali menyongsong hari depannya yang sudah lusuh. Dengan begitu dirinya masih memiliki seutas kesempatan, untuk mencuci baju kumal kemiskinannya di dalam telaga bening nurani, mengeringkannya di matahari pikiran, serta melicinkannya dengan panasnya seterika kehendak dan harapan. Dengan mengenakan kembali baju necis kemiskinan – setidaknya bagi rasa jiwa – demikian ini, masih jauh lebih mulia ketimbang menyerahkan nasib begitu saja di atas tungku keputusasaan yang tiada berujung. Apalagi irama ratapan saat ini, suaranya sudah tak lagi begitu nyaring terdengar. Sehingga menghiba dengan sekeras-kerasnya, sudah tak lagi dijawab dengan ketulusan rasa iba.&lt;br /&gt;Dan itulah yang membuat saya tertarik dengan jalinan cerita yang termaktub dalam buku ini. Sebab dari keseluruhan kisah yang ada, hampir-hampir tak dialurkan dengan rasa menghiba. Kemiskinan yang telah berada di titik nadir pun, terurai dengan jalinan kalimat sederhana dan nyaris apa adanya. Ketiadaan pretensi untuk menyulap kemiskinan menjadi barang yang mengkilap, adalah merupakan keistimewaan dari kumpulan cerita pendek ini. Seakan penulisnya berkata: biarlah potret kehidupan ini berjalan secara apa adanya. Sementara untuk memoles kemiskinan menjadi karya yang luks, biarlah itu menjadi hak LSM pemiskinan, orang-orang yang sok berjuang untuk kaum miskin, atau para selebriti entertainment kemiskinan.&lt;br /&gt;Latar belakang kaca pandang semacam itulah, yang membuat saya lebih memposisikan karya ini sebagai Solilokui daripada sebagai Cerita Pendek. Apalagi penulisnya tak demikian setia dengan bentuk, alur, model penuturan, maupun isi yang seharusnya hadir di dalam sebuah Cerpen. Hanya sedikit tulisan yang bisa memenuhi “persyaratan formal” dan kriteria yang bisa dikategorikan ke dalam sebuah Cerita Pendek. Selebihnya, yang ada hanyalah berupa gugusan ide-ide yang berpendar-pendar memancar memenuhi ruang cerita dan ruang jiwa kita. Tapi gaya penuturan yang “tak sesak” dari pemotretan realitas yang nyaris nyata itulah, yang menjadi kelebihan utama karya ini.&lt;br /&gt;Dan nyatanya, justru dari pemaparan semacam itulah sebuah religiusitas bisa dibangun. Sebab apalah artinya sebuah karya bila cuma berhasil menyentuh emosi, tetapi gagal menggerakkan religiusitas pembacanya? Sebuah letupan yang meledak di ruang emosi, tentu lebih merupakan sebuah teror belaka. Sementara karya yang menghembus di ruang religiusitas, adalah lebih merupakan suara kebajikan yang bijak.&lt;br /&gt;Dengan kalimat yang lebih simbolik, bukankah karya yang hidup di ruang emosi bagai riak-riak ombak yang tengah menembus gelombang samudera di jiwa raya? Sementara karya yang hidup di ruang religiusitas, bagaikan sepercik ombak kecil yang tengah membelah sebuah danau yang tenang. Seperti halnya sebiji doa; akan jauh lebih terasa getarannya bila ia menjadi kerikil yang jatuh di ketenangan danau, daripada berupa batu besar yang terlempar di tengah gelombang lautan singgasanaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Kreator intelegensia ADEC (Alternative Development &amp;amp; Educaion Centre), serta penulis buku “Mencari Tuhan di Warung Kopi” dan “Diary Untuk Tuhan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5620817435471515453-481258679158669421?l=kerebritis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kerebritis.blogspot.com/feeds/481258679158669421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5620817435471515453&amp;postID=481258679158669421' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/481258679158669421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5620817435471515453/posts/default/481258679158669421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerebritis.blogspot.com/2008/09/epilog-dari-ilung-senha.html' title='Epilog dari Ilung S.Enha'/><author><name>Admin Staff</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4Lrfo-ewg_E/SN3bsOBrjUI/AAAAAAAAAdA/KvTTEN3cxbM/s72-c/ilung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
